Amanat Lestari dari Ba...

Amanat Lestari dari Baduy: Seruan Pemimpin Berintegritas dan Pelindung Alam di Seba Baduy

Ukuran Teks:

AsmitaNews.Com, Di tengah hiruk pikuk modernitas, masyarakat adat Baduy dari pedalaman Lebak, Banten, kembali menyuarakan kearifan lokal yang mendalam melalui perhelatan Seba Baduy. Ritual tahunan yang sakral ini bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan sebuah jembatan komunikasi vital bagi masyarakat Baduy untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Tahun ini, amanat yang disampaikan berpusat pada dua pilar utama: pelestarian lingkungan hidup dan penegakan integritas dalam kepemimpinan.

Seba Baduy, yang secara harfiah berarti "menghadap" atau "menyerahkan," adalah puncak dari rangkaian ritual Kawalu, masa puasa dan meditasi bagi masyarakat Baduy. Ini adalah momen ketika para Puun (pemimpin spiritual), Jaro (pemimpin adat), dan perwakilan masyarakat Baduy, yang dikenal dengan sebutan Baraga, melakukan perjalanan panjang dari permukiman mereka yang terpencil menuju pusat pemerintahan. Mereka membawa hasil bumi sebagai simbol persembahan dan laporan tahunan mengenai kondisi masyarakat serta lingkungan hidup mereka.

Ritual ini melambangkan hubungan harmonis antara masyarakat Baduy dengan pihak luar, sebuah dialog yang telah terjalin lintas generasi. Perjalanan kaki yang ditempuh oleh rombongan Baduy, seringkali puluhan kilometer, adalah penanda keseriusan dan ketulusan dalam menyampaikan pesan. Kedatangan mereka di Pendopo Bupati Lebak, dan kemudian dilanjutkan ke Pendopo Gubernur Banten, selalu dinanti sebagai pengingat akan nilai-nilai luhur yang kerap terabaikan di tengah pembangunan.

Pada Seba Baduy kali ini, suasana khidmat menyelimuti Pendopo Bupati Lebak saat rombongan masyarakat Baduy tiba. Mereka disambut langsung oleh Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, serta sejumlah pejabat daerah dan tamu undangan lainnya. Dalam balutan pakaian adat khas mereka, para tetua Baduy memancarkan aura kebijaksanaan dan ketenangan, siap untuk menyampaikan wejangan yang telah disiapkan.

Inti dari pesan yang dibawa oleh masyarakat Baduy adalah seruan mendesak untuk menjaga kelestarian alam semesta. Jaro Tangungan 12, Saidi Putra, sebagai salah satu perwakilan adat yang disegani, menyampaikan dengan lugas betapa pentingnya alam bagi kelangsungan hidup. Baginya dan seluruh masyarakat Baduy, alam bukan hanya sumber daya, melainkan entitas sakral yang harus dijaga dan dihormati sepenuh hati.

"Penetapan penguatan pelestarian khususnya kepada yang cinta kepada alam, kami menitipkan mudah-mudahan yang ada di muka bumi mohon dipikirkan, di pelosok manapun yang disebut larangan, di darat dan di air," tutur Saidi Putra kepada para jurnalis. Pernyataan ini menegaskan filosofi hidup Baduy yang memandang gunung, hutan, sungai, dan seluruh elemen alam sebagai bagian tak terpisahkan dari eksistensi mereka, yang harus dilindungi dari kerusakan.

Saidi Putra secara khusus menyoroti permasalahan pencemaran lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Ia dengan tegas menyuarakan keprihatinan masyarakat Baduy terhadap limbah industri dan limbah rumah tangga yang dibuang sembarangan ke aliran sungai. Bagi Baduy, air adalah "sumber kehidupan" yang fundamental, sehingga keberadaannya yang bersih dan murni adalah keharusan mutlak bagi semua makhluk hidup.

"Air sumber kehidupan, semua membutuhkan air bersih. Limbah-limbah jangan dibuang ke sungai," pinta Saidi. Pesan ini bukan hanya sekadar keluhan, melainkan sebuah tuntutan moral yang kuat dari komunitas yang hidup sangat dekat dengan alam, menyaksikan langsung dampak negatif dari aktivitas manusia modern terhadap ekosistem yang rapuh. Mereka berharap pemerintah dapat bertindak tegas untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

Pesan Tokoh Adat dalam Seba Baduy: Pemimpin Harus Pintar Berantas Korupsi

Selain amanat tentang lingkungan, Jaro Saidi Putra juga menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya kepemimpinan yang bersih dan berintegritas. Dengan gaya yang unik dan khas budaya lisan, ia melontarkan sebuah pantun yang sarat makna. Pantun ini bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan sebuah kritik sekaligus harapan yang ditujukan kepada para pemimpin negeri.

"Ke Malingping lewat Cikeper, ke Rangkas beli roti. Jadi pemimpin harus pintar, harus bisa berantas korupsi," lantun Saidi. Pantun tersebut menggarisbawahi harapan masyarakat Baduy agar pemimpin memiliki kecerdasan dan keberanian untuk memberantas praktik korupsi yang menggerogoti sendi-sendi negara. Bagi masyarakat yang menjunjung tinggi kesederhanaan dan kejujuran, korupsi adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah.

Pesan tentang korupsi ini menjadi sangat relevan, mengingat dampaknya yang luas terhadap pengelolaan sumber daya alam. Korupsi seringkali menjadi akar masalah dari eksploitasi lingkungan yang tidak bertanggung jawab, perizinan ilegal, dan penegakan hukum yang lemah. Dengan demikian, seruan Baduy untuk memberantas korupsi secara implisit juga mendukung upaya pelestarian lingkungan yang mereka dambakan.

Menanggapi pesan-pesan yang disampaikan oleh Jaro Saidi Putra, Bupati Lebak Hasbi Jayabaya menyatakan apresiasinya yang mendalam. Ia mengakui bahwa Seba Baduy jauh melampaui sekadar tradisi tahunan; ini adalah sebuah platform di mana kearifan lokal mengajarkan nilai-nilai universal yang sangat relevan. Bupati menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari cara hidup masyarakat Baduy yang selaras dengan alam.

"Melalui tradisi Seba Baduy saya bersama ketua panitia kepala dinas pariwisata memahami bahwa Seba Baduy bukan hanya sekedar seremoni tapi mengajarkan kepada kita betapa pentingnya menjaga alam," kata Hasbi. Ia menegaskan kembali komitmen pemerintah daerah untuk menjaga kelestarian lingkungan, sejalan dengan filosofi Baduy yang diungkapkan melalui pepatah "Gunung jangan dilebur, Lebak jangan dirusak."

Pernyataan Bupati mengindikasikan adanya pemahaman dan penerimaan terhadap amanat Baduy, yang diharapkan dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan dan tindakan nyata. Dialog yang terjadi dalam Seba Baduy ini menjadi pengingat bahwa pembangunan harus senantiasa mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, yang salah satunya tercermin dari integritas para pemimpinnya.

Seba Baduy tahun ini sekali lagi membuktikan bahwa masyarakat adat Baduy adalah penjaga kearifan yang tak lekang oleh waktu. Dengan gaya hidup mereka yang sederhana namun penuh makna, mereka terus menjadi mercusuar moral, menyuarakan keprihatinan dan harapan yang relevan bagi seluruh bangsa. Pesan tentang pelestarian alam dan pemberantasan korupsi adalah panggilan universal untuk bertindak demi masa depan yang lebih baik.

Sumber: news.detik.com

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan