Wamendagri Dorong Pemd...

Wamendagri Dorong Pemda Manfaatkan PSN untuk Dongkrak Ekonomi Daerah

Ukuran Teks:

Pesan substansial tersebut disampaikan Bima Arya dalam rangkaian acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jambi. Forum strategis ini, yang berlangsung di Rumah Dinas Gubernur Jambi pada Rabu (15/4), menjadi panggung ideal untuk menegaskan kembali urgensi sinergi antara kebijakan pusat dan eksekusi di daerah.

Musrenbang RKPD Provinsi Jambi tahun ini mengusung tema yang ambisius namun relevan: "Akselerasi Produktivitas Investasi dan Hilirisasi untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif, Berkelanjutan, dan Berdaya Saing." Tema ini secara gamblang mencerminkan prioritas pembangunan yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah, peningkatan daya saing, serta pemerataan manfaat ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dalam arahannya yang tajam dan inspiratif, Bima Arya meluruskan persepsi umum yang mungkin keliru mengenai PSN. Ia menekankan bahwa program-program berskala nasional ini tidak semestinya dipandang sebagai beban tambahan atau sekadar instruksi dari pusat. Sebaliknya, PSN adalah instrumen ampuh yang dirancang untuk membuka potensi ekonomi dan sosial di daerah.

"Program strategis nasional adalah pengungkit kemajuan di daerah," tegas Bima Arya dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Kamis (16/4/2026). Namun, ia menambahkan sebuah prasyarat krusial: "dengan catatan kepala daerah menjemput bola, mengawal, dan mengambil inisiatif." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kepemimpinan lokal yang proaktif, visioner, dan responsif.

Konsep "menjemput bola" merujuk pada inisiatif aktif pemerintah daerah untuk memahami, mengidentifikasi, dan mengintegrasikan program-program nasional ke dalam rencana pembangunan lokal mereka. Ini berarti Pemda harus terlibat sejak awal, memastikan keselarasan dengan kebutuhan dan potensi wilayah, serta secara gigih memperjuangkan alokasi dan dukungan yang diperlukan. Pengawalan berarti memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai rencana, transparan, dan efisien, sementara inisiatif mencakup kemampuan untuk berinovasi dan menyesuaikan program agar berdampak maksimal.

Pemerintah pusat, jelas Bima Arya, tidak henti-hentinya mendorong berbagai program prioritas yang mencakup spektrum luas sektor pembangunan. Dari peningkatan kualitas layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, hingga penguatan fondasi ekonomi melalui infrastruktur dan dukungan sektor riil, semua dirancang untuk menciptakan ekosistem pembangunan yang komprehensif.

Program-program lintas sektor ini memiliki potensi besar untuk menghasilkan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi perekonomian lokal. Ketika sebuah proyek infrastruktur besar dibangun, misalnya, ia tidak hanya menciptakan lapangan kerja langsung, tetapi juga memicu pertumbuhan industri pendukung, meningkatkan konektivitas, dan menarik investasi baru. Ini pada gilirannya akan menggerakkan roda ekonomi lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperluas basis pajak daerah.

Namun, potensi efek berganda ini hanya dapat terwujud optimal jika pemerintah daerah mampu mengelola dan mengintegrasikan program-program tersebut dengan strategi pembangunan lokal yang matang. Dibutuhkan perencanaan yang cermat, koordinasi yang solid antarlembaga, serta kapasitas sumber daya manusia yang memadai untuk memastikan setiap rupiah investasi dari pusat memberikan imbal hasil terbaik bagi daerah.

Lebih lanjut, Bima Arya menyoroti dinamika geopolitik global yang kini semakin kompleks dan penuh ketidakpastian. Pergeseran kekuatan ekonomi, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi adalah beberapa faktor yang mau tidak mau akan mempengaruhi lanskap pembangunan di tingkat lokal. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak seharusnya menjadi penghalang, melainkan peluang untuk melakukan transformasi mendalam.

Dalam konteks ini, Pemda dituntut untuk tidak lagi terpaku pada pola kerja konvensional. Mereka harus mampu mengubah cara pandang dan operasional menjadi lebih efektif, adaptif, dan responsif terhadap perubahan. Kemampuan untuk membaca tren global, mengidentifikasi celah peluang, serta merumuskan kebijakan yang lincah akan menjadi kunci keberhasilan di tengah ketidakpastian.

"Di sinilah kualitas leadership kepala daerah diuji," tegas Bima Arya, menyoroti peran sentral pemimpin daerah. Pertanyaannya, sambungnya, adalah "apakah mampu melihat peluang atau justru merasa terbebani." Ini adalah tantangan kepemimpinan yang sesungguhnya: mengubah ancaman menjadi kesempatan, dan kompleksitas menjadi katalisator inovasi. Kepala daerah yang visioner akan mampu memobilisasi potensi lokal untuk merespons tantangan global, sementara yang kurang adaptif mungkin akan kewalahan.

Mengambil contoh spesifik Provinsi Jambi, Bima Arya secara khusus menyoroti potensi ekonomi yang belum tergarap maksimal, terutama di sektor perkebunan. Ia menyebut kelapa sebagai salah satu komoditas unggulan yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui strategi hilirisasi dan peningkatan nilai tambah.

Hilirisasi dalam konteks perkebunan kelapa berarti mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai lebih tinggi, seperti minyak kelapa murni, santan kemasan, kopra, arang tempurung, atau bahkan produk kosmetik berbahan dasar kelapa. Inisiatif ini tidak hanya akan meningkatkan pendapatan petani dan daerah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan, menarik investasi di industri hilir, dan memperkuat posisi Jambi dalam rantai pasok global.

Dengan mengoptimalkan potensi lokal melalui pendekatan hilirisasi, Jambi dapat bertransformasi dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pemain penting dalam industri pengolahan. Ini sejalan dengan visi pembangunan yang berdaya saing dan berkelanjutan, di mana kekayaan alam diolah secara bertanggung jawab untuk memberikan manfaat ekonomi yang maksimal bagi masyarakatnya.

Pada akhirnya, Bima Arya mengungkapkan harapannya agar Provinsi Jambi dapat menjadi contoh inspiratif bagi daerah lain di Indonesia. Dengan memupuk soliditas antarlembaga pemerintahan dan masyarakat, serta mengoptimalkan setiap potensi yang dimiliki, Jambi diharapkan mampu mengimplementasikan program prioritas nasional secara efektif sebagai pengungkit nyata bagi kemajuan daerah. Kesuksesan Jambi akan menjadi bukti konkret bahwa sinergi pusat-daerah adalah kunci menuju Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.

Turut hadir dalam kegiatan penting tersebut adalah Gubernur Jambi Al Haris, Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani, serta jajaran pejabat pemerintah daerah setempat, yang menunjukkan komitmen kolektif terhadap agenda pembangunan yang diserukan Wamendagri.

Sumber: news.detik.com

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan