Gemparkan Publik! Doku...

Gemparkan Publik! Dokumen ‘Epstein Files’ Seret Tokoh Dunia, dari Trump hingga Gates

Ukuran Teks:

AsmitaNews.com – Dokumen kasus terkait mendiang terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein yang baru dirilis Departemen Kehakiman AS pada Jumat (30/1/2026) menggemparkan publik Washington DC. ‘Epstein Files’ ini mengungkap banyak hal mengejutkan dan menyeret nama-nama tokoh terkemuka dunia, termasuk Donald Trump, Bill Gates, Bill Clinton, hingga Pangeran Andrew.

Dokumen tersebut dirilis ke publik setelah parlemen AS meloloskan undang-undang pada November tahun lalu yang mewajibkan pengungkapan semua berkas terkait kasus Epstein. Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche menyatakan rilis ini menandai akhir dari rencana publikasi yang direncanakan pemerintahan Trump. "Menandai akhir dari proses identifikasi dan peninjauan dokumen yang sangat komprehensif untuk memastikan transparansi kepada rakyat Amerika," ujar Blanche, seperti dilansir Reuters dan AFP, Sabtu (31/1/2026).

Kumpulan dokumen yang dirilis mencakup lebih dari tiga juta halaman, 2.000 video, dan 180.000 gambar. Blanche menjelaskan bahwa dokumen tersebut disensor secara "ekstensif" untuk melindungi identitas korban atau materi terkait investigasi aktif. Publikasi dokumen Epstein sebelumnya memang banyak disensor, hal ini sempat menuai kritikan dari beberapa anggota parlemen AS.

Alasan Lambat Dibuka

Blanche memberikan pembelaan mengenai lambatnya proses publikasi dokumen Epstein. Menurutnya, berkas-berkas yang sangat banyak itu membutuhkan ratusan pengacara untuk meninjau dan mempersiapkannya selama berminggu-minggu. Dia menyebut ada kebutuhan untuk melakukan penyensoran secara teliti demi melindungi identitas korban Epstein, yang jumlahnya diduga melebihi 1.000 orang.

Undang-Undang Transparansi Dokumen Epstein sebenarnya menyerukan agar semua dokumen dipublikasikan paling lambat 19 Desember 2025. Namun, pejabat terkait mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengkaji berkas-berkas tersebut.

Bantahan Klaim Terkait Keterlibatan Trump

Kasus Epstein diketahui menyeret nama Presiden Donald Trump, yang berteman dengan Epstein pada 1990-an hingga awal 2000-an sebelum akhirnya berselisih. Trump sempat menolak publikasi dokumen tersebut berbulan-bulan, hingga Kongres AS mengajukan undang-undang yang mengaturnya. Trump belum secara resmi dituduh melakukan pelanggaran hukum apa pun terkait Epstein dan dia telah membantah mengetahui tindak kejahatan Epstein.

Dalam siaran pers saat mengumumkan publikasi dokumen Epstein pada Jumat (30/1), Departemen Kehakiman AS menyebut beberapa dokumen berisi "klaim tidak benar dan sensasional" mengenai Trump. "Klaim tersebut tidak berdasar dan salah," tegas Departemen Kehakiman AS, seraya menambahkan klaim itu diserahkan kepada FBI tepat sebelum pemilu tahun 2020.

Blanche, yang pernah menjadi pengacara pribadi Trump, menegaskan Gedung Putih tidak memberitahu departemennya soal peninjauan atau penyensoran. "Kami tidak melindungi Presiden Trump. Kami tidak melindungi siapa pun," tegasnya. Jeffrey Epstein sendiri, seorang pemodal terkemuka asal New York, ditemukan tewas gantung diri di sel penjara pada 2019, saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks.

Ada Nama Bill Gates

Nama pendiri Microsoft, Bill Gates, juga disinggung dalam kumpulan berkas sebanyak 3 juta halaman tersebut. Nama Bill Gates disebut berulang kali dalam email-email Epstein yang diungkap ke publik. Salah satu email tertanggal 3 Maret 2017, seperti dilansir media Turki, Haberler, Selasa (3/2/2026), mengungkapkan serangkaian topik penting, mulai dari simulasi pandemi hingga senjata neuroteknologi.

Email yang membahas soal simulasi pandemi itu menjadi sorotan, karena pembahasan dilakukan sekitar tiga tahun sebelum pandemi virus Corona (COVID-19) melanda dunia. Isi email tersebut secara khusus membahas detail teknis kolaborasi antara Epstein dengan Gates dan timnya. Korespondensi email itu ditujukan secara langsung kepada Gates, yang disapa dengan akrab sebagai "Bill", serta Larry Cohen, CEO dan mitra pengelola Gates Ventures.

Dalam email tersebut, Epstein menyatakan bahwa setelah pembicaraannya dengan Gates, dia bekerja sama dengan sekelompok ahli untuk menghasilkan proyek-proyek terkait. Pada bagian akhir email, Epstein menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan, dan menyatakan "siap membantu dengan cara apa pun". Otoritas terkait mendesak kehati-hatian dalam menafsirkan isinya, mengingat dokumen ini merupakan bagian dari peninjauan yang sedang berlangsung.

Bill Clinton Siap Bersaksi

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton dan istrinya, Hillary Clinton, juga bersedia memberikan kesaksian langsung dalam penyelidikan DPR AS terkait mendiang Jeffrey Epstein. Nama Bill Clinton disebut berulang kali dalam dokumen kasus Epstein yang dirilis ke publik pekan lalu.

Bill dan Hillary, seperti dilansir AFP, Selasa (3/2/2026), pada awalnya menolak hadir langsung di hadapan anggota parlemen. Namun, juru bicara Clinton, Angela Urena, menyatakan via media sosial X, "Mantan Presiden dan mantan Menteri Luar Negeri akan hadir. Mereka berharap dapat menetapkan preseden yang berlaku untuk semua orang."

Pangeran Andrew Didesak Bersaksi

Perdana Menteri (PM) Inggris, Keir Starmer, juga mendesak mantan Pangeran Andrew agar bersaksi di hadapan komite Kongres AS. Desakan ini menyusul pengungkapan terbaru tentang hubungannya dengan mendiang Jeffrey Epstein. Dokumen itu mencakup sejumlah email yang menunjukkan adik laki-laki Raja Inggris Charles III itu tetap berkomunikasi rutin dengan Epstein selama lebih dari dua tahun setelah Epstein dinyatakan bersalah atas kejahatan seksual anak.

Dokumen tersebut juga mencakup foto-foto yang tampaknya menunjukkan Andrew sedang berjongkok dan menyentuh pinggang seorang perempuan tak dikenal yang terbaring di atas lantai, dengan wajah perempuan itu disensor. Starmer mengatakan Andrew harus hadir langsung di hadapan anggota Kongres AS untuk menjelaskan semuanya yang dia ketahui tentang Epstein demi membantu para korbannya. "Siapa pun yang memiliki informasi harus siap untuk membagikan informasi tersebut dalam bentuk apa pun yang diminta," kata Starmer.

Raja Charles diketahui telah melucuti gelar pangeran dari Andrew dan mengusirnya dari kediaman resminya di Kastil Windsor pada November lalu. Andrew membantah telah melakukan pelanggaran hukum terkait hubungannya dengan Epstein, dan sebelumnya membantah terus menjalin kontak dengannya setelah Epstein dihukum pada tahun 2008, kecuali kunjungan ke New York pada tahun 2010 untuk mengakhiri hubungan mereka.

(rdp/rdp)

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan