AsmitaNews.Com, Jakarta – Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, baru-baru ini menyoroti fenomena Gunung Kawi di Jawa Timur yang kembali mencuat ke permukaan publik. Responnya menekankan pentingnya memahami keragaman budaya dan tradisi yang telah lama mengakar di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan di tengah hiruk-pikuk perbincangan warganet yang dipicu oleh kunjungan seorang tokoh media sosial ke situs tersebut.
Gunung Kawi, sebuah kompleks makam keramat yang terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai pusat ziarah spiritual. Situs ini memiliki sejarah panjang yang terkait dengan tradisi Jawa, memadukan elemen-elemen Islam dan kepercayaan lokal. Popularitasnya sering kali diwarnai oleh beragam narasi, termasuk isu-isu seputar praktik spiritual dan pencarian keberuntungan yang kontroversial.
Puncak perbincangan terbaru ini bermula dari unggahan viral Marcel Radhival, yang dikenal luas sebagai Pesulap Merah. Sosoknya terkenal karena kegemarannya membongkar trik-trik yang ia anggap sebagai penipuan berkedok supranatural. Kunjungannya ke Gunung Kawi bertujuan untuk menginvestigasi dugaan praktik pesugihan dan penggunaan tumbal yang kerap dikaitkan dengan lokasi tersebut.
Dalam kunjungannya, Pesulap Merah sempat berdialog langsung dengan juru kunci setempat. Interaksi ini menjadi inti dari konten yang ia bagikan, memantik diskusi luas di berbagai platform digital. Wawancara tersebut berusaha menggali informasi langsung mengenai praktik dan kepercayaan yang berkembang di sekitar situs keramat itu.
Menanggapi gejolak ini, Fadli Zon memandang fenomena tersebut sebagai bagian integral dari mozaik kebudayaan bangsa. "Ini adalah keberagaman kita dalam memahami, tidak hanya di Gunung Kawi, tapi di berbagai tempat," ujar Fadli Zon kepada awak media di Jakarta Timur, Senin (6/7/2026). Ia menambahkan bahwa hal ini merupakan cerminan dari tradisi dan budaya yang telah lama ada di tengah masyarakat Indonesia.
Pernyataan tersebut dilontarkan Fadli Zon seusai acara penetapan tanggal 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Konteks ini sangat relevan, menunjukkan sikap pemerintah dalam mengakomodasi dan menghargai spektrum luas praktik spiritual dan keyakinan yang hidup di Indonesia, di luar agama-agama formal yang diakui. Penetapan Hari Kepercayaan ini sendiri merupakan tonggak penting dalam pengakuan negara terhadap keberadaan penghayat kepercayaan.
Fadli Zon lebih lanjut menguraikan bahwa setiap lapisan masyarakat memiliki pendekatan dan pemahaman yang unik terhadap kebudayaan. Sebagai seorang politikus senior dari Partai Gerindra, ia menekankan perlunya melihat praktik-praktik ini dari perspektif yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa selama fenomena tersebut membawa kebaikan dan tidak menimbulkan gangguan, maka hal itu patut diterima sebagai bagian dari realitas sosial.
"Saya kira selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat dan tidak mengganggu, tidak merusak, itu kita anggap sebagai bagian dari realitas kehidupan kita," tegasnya. Penekanan pada aspek ekonomi budaya ini menyoroti potensi situs-situs spiritual sebagai penggerak kesejahteraan lokal. Ziarah dan kunjungan ke situs seperti Gunung Kawi sering kali berkontribusi pada pendapatan masyarakat sekitar melalui perdagangan jasa, kuliner, cinderamata, dan akomodasi.
Komentar Fadli Zon ini sekaligus menggarisbawahi pendekatan Kementerian Kebudayaan dalam melihat warisan takbenda. Kementerian memiliki peran vital dalam melestarikan berbagai bentuk ekspresi budaya, termasuk sistem kepercayaan tradisional dan praktik-praktik spiritual. Pengakuan ini bukan berarti mengesahkan klaim-klaim supranatural, melainkan mengakui eksistensi dan nilai budaya dari praktik-praktik tersebut dalam konteks sejarah dan identitas masyarakat.
Fenomena Gunung Kawi yang menjadi viral akibat Pesulap Merah ini memicu diskusi publik yang menarik. Di satu sisi, ada desakan untuk rasionalisasi dan pembongkaran dugaan penipuan. Di sisi lain, ada juga upaya untuk memahami dan menghargai dimensi spiritual serta warisan budaya yang melekat pada situs tersebut. Sikap Fadli Zon mencoba menjembatani dua kutub ini, menempatkan isu tersebut dalam bingkai keberagaman dan kearifan lokal.
Indonesia, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, memang kaya akan ragam kepercayaan dan tradisi yang telah diwariskan lintas generasi. Dari Sabang hingga Merauke, berbagai komunitas memegang teguh praktik spiritual yang sering kali berakar pada animisme, dinamisme, atau sinkretisme dengan agama-agama besar. Gunung Kawi adalah salah satu contoh nyata dari kompleksitas warisan spiritual ini, yang terus hidup dan berinteraksi dengan dinamika masyarakat modern.
Pernyataan Menteri Kebudayaan tersebut dapat diartikan sebagai ajakan untuk melihat kekayaan ini secara holistik. Yakni, sebagai bagian dari identitas bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan hukum. Hal ini juga mengingatkan bahwa dialog antara tradisi dan modernitas, antara kepercayaan dan skeptisisme, akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan kebudayaan Indonesia.
Sumber: news.detik.com
