AsmitaNews.Com, Jakarta – PT Jasa Marga (Persero) Tbk tengah gencar memperkuat fondasi transformasinya, sejalan dengan visi besar Danantara Indonesia. Perusahaan pelat merah ini kini mengarahkan kompas strateginya dari sekadar pertumbuhan yang berpusat pada pembangunan infrastruktur fisik, menuju penciptaan nilai yang lebih mendalam dan berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan. Langkah strategis ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap aset, layanan, dan jaringan jalan tol yang dikelola Jasa Marga tidak hanya mendorong pertumbuhan internal, tetapi juga memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat, pengguna jalan, investor, dunia usaha, serta negara.
Transformasi ini menjadi pilar utama bagi Jasa Marga dalam memperkokoh daya saingnya di tengah dinamika industri yang terus berkembang. Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (16/7/2026), menegaskan bahwa upaya ini diwujudkan melalui tata kelola perusahaan yang prima, inovasi berkelanjutan, digitalisasi menyeluruh, pengembangan kapabilitas organisasi, serta peningkatan kualitas pelayanan yang tak henti. Rivan menekankan pergeseran paradigma pengukuran keberhasilan perusahaan. Menurutnya, kesuksesan Jasa Marga tidak lagi semata diukur dari seberapa besar aset atau panjang jalan tol yang dikelola, melainkan dari nilai nyata yang mampu diciptakan bagi masyarakat dan negara. Oleh karena itu, setiap aset, inovasi, dan kilometer jalan tol harus dioptimalkan pengelolaannya dengan menempatkan pelanggan sebagai pusat strategi bisnis melalui prinsip "Know Your Customer".
Pergeseran orientasi ini semakin dipertegas melalui perubahan filosofi dari "infra as a structure" menjadi "infra as a culture" atau yang dikenal sebagai "infraculture". Dengan pendekatan infraculture ini, Jasa Marga tidak hanya membatasi perannya pada pembangunan dan pengoperasian jalan tol semata. Lebih dari itu, perusahaan ini berkomitmen untuk mengembangkan sebuah ekosistem infrastruktur transportasi yang holistik, yang mampu memperkuat konektivitas antarwilayah, menggerakkan roda perekonomian nasional, dan secara signifikan meningkatkan kualitas pengalaman perjalanan bagi pengguna jalan.
Rivan A. Purwantono menjelaskan lebih lanjut bahwa melalui semangat infraculture, infrastruktur yang dikelola Jasa Marga diharapkan dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui fungsi dasar penghubung antarwilayah. Infrastruktur tersebut harus menjelma menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, membangun dan memperkuat kepercayaan publik, serta menciptakan nilai berkelanjutan yang dapat dirasakan oleh semua pihak. Inilah esensi dan semangat infraculture yang terus-menerus dibangun dan ditanamkan oleh Jasa Marga.
Sebagai gambaran akan skala operasionalnya, Jasa Marga saat ini menguasai 42% pangsa pasar panjang jalan tol komersial yang telah beroperasi di Indonesia, membentang sepanjang 1.294 kilometer. Dengan pengalaman yang telah teruji selama lebih dari empat dekade, Jasa Marga kini mengelola 36 konsesi jalan tol dengan total panjang mencapai 1.736 kilometer. Skala pengelolaan yang masif ini menempatkan Jasa Marga sebagai tulang punggung konektivitas nasional, melayani sekitar 3,5 juta kendaraan setiap harinya.
Besarnya skala operasional tersebut menjadi dorongan kuat bagi Jasa Marga untuk terus-menerus memperkuat "customer experience" atau pengalaman pelanggan dalam setiap proses bisnisnya. Hal ini diwujudkan melalui serangkaian inisiatif, termasuk pengembangan layanan berbasis teknologi canggih, peningkatan keandalan operasional secara konsisten, serta penguatan kualitas interaksi yang proaktif dengan para pengguna jalan. Tujuannya adalah memastikan setiap perjalanan tidak hanya efisien, tetapi juga aman dan nyaman.
Salah satu implementasi nyata dari fokus pada pengalaman pelanggan adalah pengembangan Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC). Pusat kendali operasional berbasis data ini berfungsi sebagai otak yang mendukung pemantauan lalu lintas secara real-time, penanganan insiden dengan respons cepat, serta pengambilan keputusan yang akurat berdasarkan data terkini. Kehadiran JMTC memberikan dampak langsung bagi pengguna jalan, karena seluruh kondisi dan data lalu lintas di lajur tol kini terintegrasi secara menyeluruh, memungkinkan informasi yang lebih akurat dan tindakan yang lebih efektif.
Langkah inovatif Jasa Marga dalam mengembangkan command center untuk meningkatkan layanan digital mendapat apresiasi tinggi dari kalangan akademisi. Prof. Mohammed Ali Berawi, menyoroti pentingnya mobilitas cerdas yang terintegrasi dalam sebuah ekosistem. Menurutnya, apa yang telah dicapai Jasa Marga dengan command center-nya dalam mengelola data untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis teknologi sebagai inovasi layanan digital, sudah sangat baik. Namun, Prof. Ali Berawi juga mengingatkan bahwa pengembangan teknologi ini harus diimbangi dengan komitmen kuat terhadap keberlanjutan, mengingat pembangunan hari ini adalah warisan berharga bagi generasi mendatang. Pernyataan ini disampaikan Prof. Ali Berawi saat menjadi narasumber pada acara Expert Sharing Session yang diselenggarakan di JMTC, pada Rabu (1/7), yang membedah strategi mendalam mengenai tema "Up scaling Customer Experience (CX) Through Smart, Sustainable, and Connected Mobility Ecosystems."
Pada kesempatan yang sama, praktisi bisnis sekaligus akademisi terkemuka, Prof. Rhenald Kasali, turut menyampaikan apresiasinya terkait inovasi Jasa Marga dalam mendorong pengalaman pelanggan yang lebih baik. Menurut Prof. Rhenald, pendekatan digital di era baru saat ini telah mengubah cara masyarakat mengambil keputusan dan melahirkan ekspektasi pelayanan yang berbeda, yang semuanya bertujuan untuk memberikan pengalaman yang lebih baik. Jasa Marga, lanjutnya, telah menyempurnakan ekspektasi ini menjadi strategi perusahaan menuju customer experience yang lebih unggul, salah satunya melalui aplikasi Travoy.
Seluruh informasi yang dikelola oleh JMTC kini dapat diakses secara mudah oleh pengguna jalan melalui aplikasi Travoy (Travel with Comfort and Joy), yang didukung oleh lebih dari 3.500 kamera CCTV. Hingga awal Juli 2026, aplikasi Travoy telah diunduh oleh lebih dari 1,3 juta pengguna, dengan angka pengguna aktif bulanan (monthly active user) pada Juli 2027 mencapai lebih dari 130 ribu pengguna. Tak hanya itu, Jasa Marga juga melakukan transformasi pada layanan pusat panggilan, dengan mengubah nomor Call Center dari 14080 menjadi 133. Inovasi ini berhasil mengantarkan Jasa Marga meraih predikat "Exceptional" dan peringkat pertama dalam ajang Contact Center Service Excellence Award 2025, sebuah pengakuan atas komitmen mereka terhadap layanan pelanggan yang prima.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, juga mengungkapkan bahwa perusahaan secara aktif merejuvenasi rest area. Konsep rest area tidak lagi hanya sebagai tempat singgah sementara (transit area), melainkan bertransformasi menjadi destinasi (destination area) yang menawarkan pengalaman perjalanan yang lebih kaya sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal. Rivan menegaskan, rest area harus berkembang menjadi bagian integral dari ekosistem perjalanan yang memberikan pengalaman unik, membuka peluang ekonomi baru, dan memperkuat keterlibatan masyarakat di sepanjang koridor jalan tol.
Seluruh upaya transformasi strategis ini ditopang oleh kinerja keuangan yang sangat positif, yang berhasil dibukukan oleh Jasa Marga pada awal tahun 2026. Pada Kuartal I 2026, Jasa Marga mencatatkan Pendapatan Usaha sebesar Rp5,1 triliun, menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 10,4% dibandingkan dengan Kuartal I Tahun 2025. Capaian impresif ini didukung penuh oleh kontribusi Pendapatan Tol senilai Rp4,7 triliun serta Pendapatan Usaha Lain sebesar Rp397,6 miliar, yang masing-masing mengalami kenaikan sebesar 9,4% dan 24,4% dari periode sebelumnya. Di samping itu, EBITDA Perseroan tercatat kuat sebesar Rp3,4 triliun, melonjak 10,7% secara tahunan (year-on-year) dengan margin EBITDA yang terjaga ketat di level 66,1%, mengindikasikan efisiensi operasional yang solid.
Jasa Marga juga terus melanjutkan pembangunan sejumlah jalan tol strategis yang vital bagi konektivitas nasional, yang saat ini masih dalam tahap konstruksi dan pembebasan lahan. Proyek-proyek tersebut meliputi Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi, Yogyakarta-Bawen, Solo-Yogyakarta-YIA Kulon Progo, Jakarta-Cikampek II Selatan, dan Akses Patimban. Empat ruas di antaranya, selain Jalan Tol Akses Patimban, telah dioperasikan secara fungsional tanpa tarif pada periode Idulfitri 1447 H/Lebaran 2026. Hal ini dilakukan untuk mendukung kelancaran mobilitas masyarakat selama masa libur panjang.
Pengoperasian jalur fungsional ini memberikan nilai tambah yang konkret bagi masyarakat dengan menghadirkan pilihan alternatif rute baru, yang efektif mengurai titik-titik kepadatan lalu lintas. Selain itu, jalan tol fungsional ini juga memangkas waktu tempuh perjalanan secara signifikan, mempermudah akses konektivitas menuju destinasi pariwisata daerah, serta secara langsung berkontribusi dalam menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar koridor tol selama masa libur panjang. Pengembangan jaringan tol ini merupakan bagian integral dari upaya Jasa Marga untuk mewujudkan visi setiap kilometer jalan tol menghadirkan perjalanan yang lancar, aman, dan nyaman bagi pengguna jalan, sekaligus meningkatkan konektivitas, mempermudah distribusi logistik, membuka akses pertumbuhan wilayah, mendukung peningkatan pariwisata daerah, serta memperkuat daya saing nasional secara keseluruhan.
"Inilah ukuran keberhasilan transformasi Jasa Marga sebagai perusahaan yang terus bertumbuh, kokoh, dan mampu menciptakan nilai berkelanjutan yang berdampak luas," pungkas Rivan, menegaskan komitmen perusahaan terhadap masa depan yang lebih baik.
Sumber: news.detik.com
